Slamet Warni, Ibu Parkir Yang Ulet

“Priiiiiiit…”, suara tak kencang dari sebuah peluit itu menghalau badan-badan besar kendaraan yang terparkir rapi di depan gedung tua penginggalan kolonialis Belanda yang kini digunakan sebagai Kantor Pos Besar Yogyakarta. Lengkap dengan seragam orange plus sebuah topi, Bu Slamet Warni menyambung hidupnya dari upah mengatur parkir kendaraan di kawasan tersebut.

Sepeninggal suaminya, Slamet, yang meninggal setahun silam, Bu Warni menghidupi dirinya dengan bekerja sebagai tukang parkir di wilayah itu. Warni bekerja khusus dari sore hingga malam, mulai pukul 3 sore sampai 9 malam. Sedangkan setiap pagi sampai siang, beliau menjadi buruh cuci pakaian kotor milik para tetangganya.

Fisik yang tak lagi muda, dipaksanya menjalani pekerjaan yang berat. Namun Warni adalah seorang pejuang tangguh bagi nasib kehidupannya. Beliau mengelak, tak menjawab saat ditanya tentang bagaimana anak-anaknya. Bu Warni yang hidup sebatang kara dan terus berjuang demi kehidupannya.

5 komentar

yazid
11 November 2008

semoga ini bisa mengetuk hati para pemuda/i jogja, agar dapat lebih menghargai kerja keras orang tua. kita ada karena mereka…

smangat brur!! ;)

Nanang Ariyanto
13 November 2008

Salut buat Ibu Warni. Nanti kalo aku ke Malioboro parkirnya di depan kantor pos aja ah. Biar bisa ketemu sama Ibu Warni. Tetep semangan ya, Buu.. :)

kuss
4 December 2008

heibat budhe ini! aku lebih salut pada sosok ini ketimbang, maaf, para tukang parkir di sekitar boks2 ATM yang sebenarnya pemalas n kurang kerjaan…

Suparmin
16 December 2008

Salut bu Warni…. tasih kelingan saya muga2. Kami ini satu gereja

Belajar dari Blog Wajah Jogja « Paman Tyo
2 March 2009

[...] Ngayogyakarta Hadiningrat juga ruang huni bagi Mbah Arek, Widodo si Dokter Mesin, Pak Mugi Becak, Bu Slamet Warni Juru Parkir, dan masih banyak [...]

Berikan Komentar