Nasrul: “Jogja yang Memilih Ayah”
Ayah, begitu Nasrul biasa dipanggil, pernah berdagang dengan cara yang unik: jika ada kapal yang berlabuh di Jakarta, ia akan ikut kapal itu, sepanjang tujuannya ke arah timur, apa pun kota tujuannya. Di pelabuhan tujuan itulah ia berdagang kaki lima.
Pada awal 1980-an, Ayah dipanggil ke Jogja oleh saudaranya, seorang pengusaha warung makan Padang. Ia diajak bekerja di warung makan Padang “Palitu Aalam” di sekitar Pasar Kembang. Sebelumnya, pada 1971-1976, sebelum berkelana dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, Ayah juga sempat bekerja pada orang yang sama, tepatnya di warung makan Padang “Wiena” yang berlokasi tak jauh dari Stasiun Tugu. Setelah ditinggalkan Ayah berkelana, warung makan “Wiena” mulai merosot dan akhirnya dijual ke salah satu kerabat Presiden Soeharto.
Ayah kembali ke Jogja saat saudaranya tadi itu mendirikan warung makan padang “Palitu Alam”. Sembari bekerja di “Palitu Alam”, Ayah ikut belajar mengelola warung makan, dari mulai memasak, melayani pelanggan, hingga mengelola keuangan.
Berbekal pengalaman itulah Ayah akhirnya membuka warung makan Padang sendiri pada 2004 silam, tak jauh dari supermarket Ramayana di Malioboro. Ia menamai warungnya sama persis dengan nama panggilannya: “AYAH”.
Kini Ayah sudah berusia 58 tahun. Dan tiap kali ditanya kenapa memutuskan menetap di Jogja, Ayah selalu punya jawaban metaforik. Katanya, “Bukan Ayah yang pilih Jogja, tapi Jogja yang memilih Ayah.”
–oleh Choro
12 komentar
yazid
21 May 2009
kemungkinan,,disana adanya Warung Masakan Jogja
Rusa Bawean™
9 June 2009
jadi ayah dan jogja sehati donk
siais
24 July 2009
wah makin keren aja nih jogja…
lam kenal ya…
Mas Kopdang
13 August 2009
kenapa hanya sebatas Januari Wajah Jogja bangun pagi?
tak adakah wajah-wajah yang layak ditoreh pada kami?
tiyok
30 August 2009
“Bukan Ayah yang pilih Jogja, tapi Jogja yang memilih Ayah.”
Merinding mendengarnya. Jadi kangen Jogja…
Salam kenal.
NANIK SUJONO
11 November 2009
aku kangen Jogja dan segala tentang Jogja…..
suatu saat aku kan kembali membawa kemenangn dari perantauanku..
freezipe
5 December 2009
jogja memang top
juther
22 January 2010
Jogja pilih Ayah, dan aku pilih Jogja jadi kota favoritku untuk melepas rindu, penat, suntuk rasanya setelah pergi ke Jogja plong…adanya indah, adem, nyaman lah hati kita…Tulisan yang bagus. Di Padang tidak ada warung Padang , seperti di Tegal juga tidak ada Warung Tegal tapi di Banjarnegara ada Dawet Ayu Asli Banjarnegara! juther.wordpress.com
Fachmi
8 February 2010
Jogja luar biasa
inung gunarba
6 July 2010
Artikel yang asyik nih, jadi pengen mampir ke RM Ayah kalo pul-kam besok. Nuwun
Ade Fr
13 June 2011
Seneng membaca postingan yang satu ini. Hidup berkelana dan menjalani hidup mengalir bagai air. Saya sangat menyukai Karakter seperti Ayah dalam tulisan ini.







antobilang
15 January 2009
Yang dari dulu aku pengen tau, di Padang sendiri ada Warung Padang gak yah?