Mbah Arek: Pada Kelopak Bunga Kemboja
Tak sengaja saya bertemu dengannya. Dia yang sore itu sedang membereskan kembang-kembang kamboja yang berserakan di kompleks pemakaman Taman Sari, tepat di depan rumahnya.
Kuburan dan kembang kamboja adalah hidupnya kini. Dulu, pada masa muda, ia melakoni banyak hal, termasuk menjadi prajurit pada masa revolusi. Usai Agresi Militer ke-II, ia kembali ke Jogja setelah lama berkiprah di Surabaya. Sempat ditawari pensiun, tapi jiwa mudanya terlalu angkuh untuk menerima asupan subsidi.
Suatu ketika ia bersemedi di Kali Progo. Di situ, turun wisik yang menyebutkan bahwa ia harus berkunjung ke makam di daerah Miliran. Ke sanalah dia, dan ditemukannya cincin akik berwarna hitam. Cincin itu ia kenakan dan sontak –dengan serta merta– ia merasa “pengetahuan” sudah mengeram dalam dirinya.
Tapi ia khilaf karena suatu sebab. Dilanggaranya pantangan, dimamahnya nasi dan datanglah hukuman: cincin itu hilang begitu saja. “Saya hampir gila,” ujarnya.
Kini, sejak dua tahun lalu, ia menggantungkan hidup pada kembang kamboja yang ia kumpulkan di seantero Taman Sari, juga sisa-sisa bunga yang ada di makam-makam. Setelah terkumpul lebih kurang lima kilo, kembang kamboja yang sudah kering itu akan diambil oleh seorang “utusan”. Kembang kamboja itu, katanya, untuk bahan membuat sabun, obat nyamuk, dan lain rupa.
Ia punya pengertian sendiri tentang jumlah kelopak kemboja. Normalnya, kelopak bunga kamboja ada lima. Dalam kepercayaan Jawa, kata Mbah Arek (82 tahun), jika ada kembang kamboja yang berkelopak genap (4, 6, dan 8), maka yang memilikinya akan memeroleh keberuntungan sebanyak jumlah kelopak yang ditemukannya.
Iseng saya memilih-milih kembang kamboja sebagai kenang-kenangan. Saya malah menemukan kembang kamboja berkelopak enam. Saya tidak tahu, adakah enam keberuntungan yang akan saya dapatkan.
– oleh Fian Khairunnisa
8 komentar
antobilang
2 January 2009
saya penasaran sekali, katanya Mbah Arek ini tak memetik bunganya, hanya menunggu jatuhnya. Sungguh sebuah kesetiaan pada prinsip…
sekelebatsenja
5 January 2009
waw. entah kebetulan atau tidak, tadi pagi aku menemukan kamboja berkelopak 6
salam buat mbah arek..
funkshit
8 January 2009
baru tau klo kembang kambojanya untuk bahan sabun . .. sabun aroma kamboja ??
annot
12 January 2009
Di prambanan juga ada nih, dan sepertinya di sepanjang candi sewu kini tak hanya berderet hotel kelas melati, tapi juga orang-orang yang menjemur kembang kamboja terlebih saat musim kemaru.
Belajar dari Blog Wajah Jogja « Paman Tyo
2 March 2009
[...] Siapa dia? Mungkin tak penting bagi Anda. Saya pun baru tahu setelah membaca laporan Fian Khairunissa yang diposkan oleh Zen sang pejalan jauh. Dia, lelaki tua itu, adalah penjaga kuburan Taman Sari, Yogyakarta. Dia bernama Mbah Arek. [...]
juther
22 January 2010
Waktu kecil aku suka sekali memetik bunga kamboja dan menghitung kelopaknya konon kalau genap akan menjadi orang beruntung. Ternyata mitos itu masih ada sampai sekarang, aku kagum pada Mbah pemungut bunga kamboja, lagian itu pekerjaan romantis memungut kembang, wangi lagi!
ayu
18 August 2010
boleh minta alamat atau no contact nya mbah arek ini ga???? mkasi







Ari Aristides
2 January 2009
Saya sudah dengar “mitos” kelopak kamboja genap yang membawa keberuntungan sejak saya kecil. Saat itu saya sering menyimpan kelopak kamboja berjumlah 4, 6, atau bahkan 8. Tapi apa untungnya ya? Sekarang sih saya hanya senyum2 saja kalau ada yang seperti saya jaman kecil dulu. Salam kenal…Nice blog