Turiyo, Nelayan bukan Pilihan

Mengarungi laut selatan bukan pekerjaan baru bagi Turiyo. Sejak berusia 7 tahun, laki-laki kelahiran 1976 ini telah membantu ayahnya yang juga seorang nelayan.

Karena telah terbiasa dari kecil, Turiyo akhirnya menjadi seorang nelayan seperti sang Ayah. Pekerjaan ini bukan sebuah pilihan di dalam hidup Turiyo. Karena pria yang sempat bercita-cita menjadi ABRI ini tidak memiliki keahlian lain selain melaut. Bahkan lulus sekolah dasar pun tidak. “Daripada tidak punya kerjaan,” ungkapnya.

Hampir setiap hari Turiyo berangkat melaut dari Pantai Depok, selatan Yogyakarta sekitar pukul 6 pagi, dan kembali lagi sekitar pukul 12 siang. Tapi dengan catatan, cuaca dalam kondisi baik. “Karena menjadi nelayan itu tidak enak.” Tutur Bapak dari 3 orang anak ini. Turiyo mengatakan, menjadi nelayan adalah profesi yang berbahaya. Menurutnya, laut itu tidak bisa ditebak. Jika terjadi sesuatu di tengah laut, tidak ada orang lain yang dapat menolong kita selain diri sendiri.

Dari pekerjaan yang berbahaya ini, laki-laki berumur 32 tahun tersebut mendapatkan hasil yang tak menentu. Bergantung pada pengalaman dan keberuntungan. Turiyo pernah tidak mendapatkan seekor ikan pun ketika melaut. Namun, tidak memungkiri, jika ia sering memperoleh jutaan rupiah dalam sekali tangkapan. Tapi setiap uang hasil jualan ikan tersebut, harus dibagi hasil kepada pemilik kapal yang disewa Turiyo untuk mencari ikan.

Kini, harapan dari laki-laki yang pernah bercita-cita menjadi ABRI ini adalah tidak ingin anak-anaknya kelak menjadi nelayan seperti dirinya. Sekarang yang penting baginya adalah anak-anaknya bisa tetap bersekolah, dan menjadi orang sukses.

—oleh Iphan