Slamet Warni, Ibu Parkir Yang Ulet

“Priiiiiiit…”, suara tak kencang dari sebuah peluit itu menghalau badan-badan besar kendaraan yang terparkir rapi di depan gedung tua penginggalan kolonialis Belanda yang kini digunakan sebagai Kantor Pos Besar Yogyakarta. Lengkap dengan seragam orange plus sebuah topi, Bu Slamet Warni menyambung hidupnya dari upah mengatur parkir kendaraan di kawasan tersebut.

Sepeninggal suaminya, Slamet, yang meninggal setahun silam, Bu Warni menghidupi dirinya dengan bekerja sebagai tukang parkir di wilayah itu. Warni bekerja khusus dari sore hingga malam, mulai pukul 3 sore sampai 9 malam. Sedangkan setiap pagi sampai siang, beliau menjadi buruh cuci pakaian kotor milik para tetangganya.

Fisik yang tak lagi muda, dipaksanya menjalani pekerjaan yang berat. Namun Warni adalah seorang pejuang tangguh bagi nasib kehidupannya. Beliau mengelak, tak menjawab saat ditanya tentang bagaimana anak-anaknya. Bu Warni yang hidup sebatang kara dan terus berjuang demi kehidupannya.