Suratno, Menjual Bensin Eceran
Pak Suratno bisa dijumpai di daerah Tegalmulyo, Pakuncen, Wirobrajan. Pak Suranto memiliki 5 (lima) orang anak sekaligus 5 (lima) cucu. Beliau aslinya berasal dari daerah Semanu, Gunung Kidul, kemudian hijrah ke Jogjakarta sejak tahun 1963 dan menetap di Wirobrajan.
Lelaki tua kelahiran tahun 1951 ini memang seorang pekerja keras. Dulu selagi masih muda, beliau menarik becak. Namun kini di usia senja, beliau menjalani hidupnya sebagai seorang penjual bensin eceran. Di samping kios sederhananya yang hanya berjarak selemparan batu dari kantor salah satu partai besar di tanah air itu, ada sebuah becak lamanya diparkir. Sesekali jika ada yang menggantikannya berjaga kios, Suratno juga masih menerima order untuk menarik becak mengantarkan penumpang. Secukupnya, dekat saja, tidak terlalu jauh-jauh.
Mungkin tidak banyak yang tahu, jika penjual bensin eceran juga bisa terkena imbas langsung dari drama kenaikan harga BBM. Suratno bercerita, Jika dulu, saat harga jual bensin di SPBU masih Rp 4.500,- bisa laku sampai 100 botol (isi 1 liter). Namun kini, saat semua konsumen lebih memilih membeli di SPBU karena harga dasar mencapai Rp 6.000,- Suratno mengaku harus puas dengan penjualan 50 botol setiap harinya, kadang kurang dari jumlah itu. Semua tentu saja dengan jumlah margin laba yang sama, lima ratus rupiah per botol.







Komentar Terbaru