Arsip untuk Tag: pengamen

Wini, Rumahnya Beratap Langit

Ibu-anak itu duduk menyendiri di antara ramainya Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Di dekat pohon beringin tua, Wini ditemani 2 anaknya, usia 11 dan 10 tahun, menunggu satu anak sulungnya. Saat siang, rumah mereka adalah di jalanan. Menikmati teduhnya emperan toko atau pendopo sekitar Keraton  adalah hak mereka saat gelap. Wini tidak memiliki tempat tinggal, hidup menggelandang, dan mengais rezeki dari mengamen belas kasihan orang. Wini yang asli Semarang ini sudah sejak tahun 1991 hidup di kota Jogja. Dulu, saat masih lajang dia bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan padang dan asisten pendorong kursi roda di sebuah rumah sakit. Kemudian Wini menikah dengan seorang pria yang beberapa tahun silam meninggalkan 3 anak kepadanya, lalu pergi bersama wanita lain.

Hari ini Wini sakit. Maag kronis dideritanya sejak tahun lalu membuat dia tak bisa lagi lincah mencari uang untuk anak-anaknya. Jika tak lagi kambuh, dia akan bergegas pergi ke jalanan untuk mengamen bersama putrinya. Namun jika penyakit maag ini kambuh akibat tidak mungkinnya Wini memenuhi jadwal makan yang teratur, maka Wini harus istirahat. Namun, seorang seperti Wini seolah tak punya hak untuk beristirahat, sekalipun sedang sakit. Dari mana dia bisa memberi makan anak-anaknya jika dia tidak mencari uang.

Saat maag kronis itu kambuh, dia mengkonsumsi obat maag cair yang harganya tentu tak murah untuk ukuran Wini. Dia harus mengkompromikan antara perut lapar dan obat untuk rasa sakitnya. Cuma tinggal putra sulungnya saja, Nugroho (16) yang bisa mengais rejeki di jalanan sore untuk 4 ibu anak itu. Putrinya yang berusia 11 tahun masih menderita trauma akibat sebuah pelecehan seksual yang dialaminya sebulan lalu. Sedangkan putra bungsunya masih suka bermain-main menemani ibunya.

Wini jelas tak pernah ingin hidup di jalanan selamanya. Wini juga ingin anaknya bisa mengenyam pendidikan selayaknya anak lain di negeri ini. Menyandang status tanpa rumah, tunawisma, maka Wini adalah sasaran operasi penertiban yang dilakukan oleh pemerintah kota. Namun tidak seperti yang banyak kita ketahui tentang operasi penertiban kota, nyatanya mereka cuma ditangkap lalu dilepas begitu saja. Hingga pada operasi berikutnya, mereka akan mengulangi hal ini seterusnya. Tidak ada yang sering disebut pengarahan atau pembinaan, apalagi solusi untuk mereka. Wini sendiri mengatakan ingin bekerja, sebagai pembantu rumah tangga mungkin, tapi mengingat kondisi fisiknya yang sakit-sakitan rasanya keinginan itu tak mudah diwujudkan.

Bu Jumariyah, Pengamen dan Tukang Pijat

Perkenalan saya dengan wanita tua itu adalah saat saya sedang hunting foto di seputaran Alun-alun kidul. Wanita tua itu meminta dipotret untuk bahan bikin KTP. Mungkin iseng atau mungkin tidak, saya tidak tahu. Tapi dengan perkenalan itu saya tahu bahwa Bu Jumariyah, wanita tua berusia lima puluhan tahun itu tinggal di antara kedua pohon beringin di wilayah Alun-alun Kidul. Beralaskan tikar seadanya, Bu Jumariyah bersama tuna wiswa lainnya tinggal dan beraktivitas di tempat itu. Tentunya tak nyaman, sekaligus selalu was-was jika rombongan Satpol PP datang merazia.

Saat siang hari, beliau berprofesi menjadi pengamen di jalan Kaliurang serta jalan Solo. Bu Jumariyah menuju tempat-tempat mengamen tersebut dengan menggunakan angkutan bis kota. Setelah seharian badan capek karena mengamen, Bu Jumariyah belum bisa langsung beristirahat. Bu Jumariyah masih harus bekerja menawarkan jasa pijat kepada para pengunjung yang lalu-lalang di Alun-alun kidul. Kerja siang-malam bukan dilakukan sebagai wujud keserakahan, hal itu beliau lakukan karena memang tak punya penghasilan yang menjanjikan untuk ‘hidup’ secara lebih layak.

Wanita yang gemar menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot saat mengamen itu, mengaku memiliki seorang anak angkat yang bekerja sebagai tukang parkir di alun-alun kidul. Bu Jumariyah mengaku berasal dari suatu daerah di Jawa Timur, yang sebenarnya bisa dikenali dengan mudah melalui logat berbicaranya. Di akhir pembicaraan, beliau berpesan, kalau suatu saat saya datang lagi ke tempat itu, ingin dibawakan mukena untuk sholat.