Bagong, Badut Dadakan
Menjadi badut memang tak pernah menjadi cita-cita bagi Bagong. Meski ini bukanlah profesi tetapnya, karena keseharian Bagong adalah sebagai juru parkir di depan gedung Bank Indonesia, Jogjakarta. Upaya memenuhi kebutuhan rumah tangga yang membuat dia sesekali bekerja menjadi badut. Pekerjaan badut ini dilakukannya jika ada yang membutuhkan jasanya. Bagong berprinsip selama pekerjaan itu halal, dia tidak pernah malu menjalaninya.
Bagong memiliki 4 (empat) orang anak yang tinggal bersama mertuanya di Batang – Jawa Tengah. Sedangkan dia sendiri tinggal di sekitar Purawisata, Jogjakarta sambil tetap bekerja. Tiga anaknya sudah bersekolah, bertutut-turut kelas 4 SD, kelas 2 SD, dan kelas 1 SD. Seorang anaknya lagi masih berusia 4 tahun. Pria berusia 38 tahun ini menyekolahkan anaknya di daerah Batang – Jawa Tengah, tempat mertuanya tinggal. Saat ditanya kenapa tak menyekolahkan anaknya di Jogja saja? Menurut Bagong, biaya sekolah di daerah masih lebih murah dibandingkan dengan Jogja yang berjuluk kota pelajar. Dia juga mengkritik seorang tokoh reformasi yang ternyata justru memiliki sekolah paling mahal di Jogja. Dalam pandangan Bagong yang sederhana, reformasi adalah murahnya pendidikan bagi rakyat kecil seperti dia.
Tinggal dan bekerja jauh dari anak dan keluarga tentu bukan hal mudah yang dijalani siapapun. Namun Bagong adalah bagian dari sekian juta rakyat negeri ini yang tidak memiliki banyak pilihan. Kerinduan kepada anak serta tuntutan pekerjaan harus dikompromikan agar dapur terus mengebul dan anaknya bisa terus bersekolah.







Komentar Terbaru