Pak Mugi, Selama Becak Masih Ada….
Pada mulanya adalah payon (atap becak) yang tiba-tiba rusak padahal setoran narik becak belum pula terkumpul. Terpaksa ia membetulkannya sendiri. Ternyata berhasil. Kebetulan yang menyenangkan itu akhirnya mengubah jalan hidup Pak Mugi (68 thn): Ia beralih profesi dari penarik becak menjadi montir becak.
Bermodal sisa tabungan plus patungan dengan seorang temannya, bengkel pun dibuka di Taman Parkir Ngabean. Setelah berani mendeklarasikan bengkelnya sebagai “bengkel khusus becak”, Pak Mugi pun mulai menangguk reputasi. Namanya dikenal di Yogyakarta, bahkan hingga daerah sekitar seperti Muntilan, Purworejo, dan Klaten.
Kini bengkelnya pindah ke Gedong Kiwo, tepat di belakang Pos Polantas Pojok Beteng Kulon. Untuk menuju ke sana, Pak Mugi mesti berangkat pagi-pagi dari rumahnya di Pandak dengan naik bus. Jam 8 pagi, bengkel itu sudah mulai beroperasi. Pak Mugi bisa memperbaiki kaki-kaki becak, sistem pengereman, payon (atap penumpang), kursi penumpang, hingga melukis di atas selebor becak.Tarif mereparasi becak sebesar Rp. 115.000 dan biasanya selesai setengah hari.
Dari usahanya ini ia bisa menyekolahkan lima anaknya hingga bangku sekolah menengah. Empat anak pertamanya sudah bekerja semua, sementara yang terkecil masih duduk di SMU I Sanden, Bantul. Ia akan terus menjadi montir becak, mungkin sampai ia tutup usia, entah kapan itu.
Pokoknya, kata Pak Mugi, “Selama becak masih ada di Jogja….”
– Oleh St. Andre Wicaksono

Adakah hubungan langsung antara VW dan Jogja? Bertanyalah pada Bukbis Pancawinata (41 thn), ia mungkin bisa memberi jawabannya.
Mas Dodo. Itulah panggilan akrab lelaki kelahiran Lampung 32 tahun silam. Mas Dodo telah menjadi warga Jogjakarta sejak tahun 1994. Bersama istrinya Husnul Khotimah dan putri mungilnya Aulia yang masih berumur 18 bulan, ia bermukim di salah satu rumah kontrakan di daerah Soropadan.





Komentar Terbaru