Biies, Seniman VW
Adakah hubungan langsung antara VW dan Jogja? Bertanyalah pada Bukbis Pancawinata (41 thn), ia mungkin bisa memberi jawabannya.
Biies, nama panggilannya, hijrah dari Surabaya ke Jogja sekitar tahun 1990-an. Sebelumnya, sejak lulus SMA, ia bekerja di bengkel orang dan khusus menangani mobil-mobil Eropa. Begitu menyadari bahwa mobil-mobil VW yang ditanganinya banyak berasal dari Jogja, ia pun memutuskan pindah ke sana.
Menurutnya, pasar Jogja masih terbuka lebar untuk membuka bengkel VW. Tapi ia baru mendirikan bengkel sendiri alias tidak ikut orang, baru tahun 1997-1996. Menurutnya, dengan bekerja sendiri walau tanggung jawab lebih besar dibanding ketika ia masih ikut orang, ia merasa lebih bahagia. Kreativitas bisa disalurkan, walau itu bisa dibilang cukup gila.
Di kalangan pecinta VW, Biies identik dengan ide-ide segar dan liar. Salah satu pencapaian yang membuat penggemar VW berdecak kagum adalah ketika ia membuat sendiri mesin injeksi untuk VW. Ide ini banyak mendapat cibiran, mengingat VW yang dijadikan percobaan termasuk kategori mobil kuno, sedangkan mesin injeksi identik dengan mobil-mobil baru nan canggih. Ketika berhasil, cibiran dengan sendirinya reda. Tapi ia tak ingin berhenti di situ. Ia ingin membuat sendiri mesin injeksi –ini berarti ia mesti mempelajari detail karakter mesin injeksi berikut komputerisasinya segala. Ia lagi-lagi sukses.
Jika Jogja bisa diterjemahkan sebagai elan kreativitas yang tak pernah berhenti, Biies menerjemahkannya dalam dunia utak atik mobil VW. Kreatifitas, faktor kunci keberhasilan para seniman yang jumlahnya bejibun di Jogja, dicangkok sedemikian rupa oleh Biies dalam detail pengembangan mesin yang rumit dan mekanis.
Read more

Kalau Anda pernah mendengar PetakUmpet, nama M. Arief Budiman tentu melekat pada biro periklanan ini.





Komentar Terbaru