Grace Samboh, “Jogja, Kota Waktu luang”

Gua ingin pindah ke tempat di mana gua bisa belajar dan belajar, bukan belajar dan bekerja. Jogja itu kota yang punya banyak waktu, jadi harusnya oke buat belajar,” ujar Grace Samboh ketika ditanya kenapa ia mengambil studi Pascasarjana Kajian Seni Rupa di Universitas Gadjah Mada.

Ia berdarah Manado tulen, tapi besar di Cipete, Jakarta Selatan. Itu sebabnya ia tak pernah mengaku seorang Manado. Simaklah bagaimana ia menjelaskan dirinya: “Nggak sah abis (disebut orang Manado), ngerti bahasanya juga kagak,” ujarnya.

Dia punya refleksi yang unik tentang Jogja. “Jogja itu punya waktu luang di mana-mana. Pulang kuliah, lewat angkringan terus ketemu teman, mampir dulu, satu dua jam nge-teh sambil ngobrol. Mana bisa lo begitu di Jakarta,” katanya dengan semangat. “Waktu luang bisa gua pakai buat baca, dan itu oke banget! At the end of the day, I got more than just things in school-books,” tambahnya lagi.

Kredo “alon-alon waton kelakon” membikin ritme kehidupan di Jogja tak sukar ia ikuti. Hanya saja, kredo itu bukan lagi “pelan-pelan, satu persatu sampai selesai”, tapi jadi “santai-santai saja, ntar juga kelar….”

Grace sedang mencoba merampungkan tesisnya. Targetnya, tahun depan kelar, untuk selanjutnya berambisi menyelesaikan studi tingkat doktoral di kota ini juga. Kelak ia ingin membuat majalah anak-anak yang bagus. Kenapa gak jadi dosen aja, Non? “Dosen? Dengan sistem pendidikan amburadul? Ogah! Capek melihat keadaan kampusnya. Kasihan mahasiswa kalau sistem pendidikan nggak diubah.”

Tapi, sepertinya ia tak kasihan pada dirinya sendiri, karena toh ia masih betah jadi mahasiswa (S-2) dan bahkan masih ingin menjadi mahasiswa di tingkat berikutnya, juga di negeri ini, tetap di kota ini. Ya, masih di Jogja.

“Kota waktu luang,” katanya.