Arsip untuk Tag: Jogja

Rahma: “Kapan ke Jogja Lagi?”

Ia bilang, “Tak pernah saya berpikir keluar dari Jogja. Dulu pernah, tapi kini tidak lagi. Jika pun kelak harus dengan terpaksa mencari tempat baru, mungkin itu Bali, kota yang memang sepadan dengan Jogja.”

Menetap di Jogja sejak 1999, tak pernah lama-lama ia meninggalkan kota ini. Pernah mencari peruntungan di Batam, Bandung dan Jakarta, tapi Jogja seperti selalu memanggilnya kembali, hingga hari ini, sampai kalender hendak berganti 2009. Itu artinya satu dasawarsa ia tinggal di sini. Ia memang tak begitu doyan berpindah-pindah. Selama kuliah, dari 1999 hingga 2005, ia tak pernah pindah kost. Selalu di sana, di salah satu kampung di Catur Tunggal.

Merantau ke Jogja baginya seperti mengasah keberanian untuk hidup sendiri, mungkin juga mandiri. Terbiasa dimanja sejak kecil, ia berubah menjadi perempuan penyandang sabuk hitam karate –kendati kini mengaku tak pernah lagi latihan. Di tahun pertamanya di Jogja, ia sudah menggondol emas di nomer “kata” pada Kejurda Karate. Padahal, dulu, saat masih di Lampung, tak berani ia mengadu otot di gelanggang.

Di sela kesibukannya bekerja di sebuah developer, ia masih menyempatkan diri menelusuri jalanan Jogja. Kadang hanya untuk menghabiskan waktu. TransJogja membuatnya merasa leluasa menapaki Jogja, kapan pun ia mau.

Desember ini ia berusia 28 tahun dan ku sodorkan beberapa buku prosa sebagai kadonya. Lalu, seperti biasanya, ia bertanya, “Kapan ke Jogja lagi?”

Sumadi Lukman Anwar, Temanggung-Jogja-Amsterdam

Putra penjual sayur di pasar tradisional Temanggung yang biasa dipanggil Mas Lukman (28 tahun) ini tinggal di Amsterdam, Belanda sejak Agustus 2007 silam untuk melanjutkan studi di program Master of Oncology, Vrije Universiteit Amsterdam dengan beasiswa Huygens dari Pemerintah Belanda. Sebelum ke Belanda, pria yang mengaku masih jomblo ini menjadi bagian dari Yogyakarta selama lebih dari 10 tahun. Jalan-jalan berdebu dari Dusun Pogung, yang dipenuhi warung dan penjual makanan, mungkin tidak melupakan langkah kakinya yang gesit dan lincah saat berjalan dari pondokan ke Fakultas Kedokteran Umum Universitas Gadjah Mada, tempat alumni SMAN 1 Yogyakarta ini meraih gelar dokter.

Kegiatan sehari-hari Mas Lukman saat ini adalah belajar, kuliah, dan penelitian. Beberapa waktu yang lalu sempat menggunakan waktu senggang di kala akhir pekan untuk bekerja sebagai pelayan di sebuah warung yang menjajakan masakan Indonesia. Hasil dari pekerjaan itu bisa dikatakan sangat lumayan, antara lain: laptop Sony VAIO dan kamera DSLR serta uang saku untuk keliling Eropa. Udara di Groningen, Delft, Maastricht, Den Haag, Rotterdam, Utrecht, Arnhem, Brussels, Antwerpen, Dinant, Luxemburg, Paris, Berlin, Hannover, Zurich, Basel, dan Luzern sudah pernah dihirupnya. Viena, Salzburg, Barcelona, Madrid, Roma, dan Venesia merupakan incaran berikutnya untuk liburan musim dingin yang akan datang.

Rekan-rekan Mas Lukman di Belanda mengenalnya sebagai sosok yang ringan tangan. Kompetensinya sebagai dokter sangat dirasakan manfaatnya oleh mereka yang mempunyai keluhan kesehatan. Meskipun ingin meneruskan ke jenjang S3 dan juga memperoleh lisensi untuk praktek sebagai dokter di Belanda hingga karenanya rutin menempuh kursus Bahasa Belanda yang sudah sampai tingkat menengah, Mas Lukman tetap bercita-cita untuk pulang ke Indonesia dan mengabdi di negeri tercinta. Yogyakarta merupakan kota pilihan jika akan pulang ke Indonesia nantinya. Yogyakarta telah meninggalkan kesan mendalam di sanubari Mas Lukman sebagai kota yang menawarkan pendidikan bagus dan paling murah dibanding kota-kota lain, kota yang nyaman untuk ditinggali, kota yang tidak terlalu besar tapi hampir semua fasilitas publik tersedia, dan kota yang internetnya cepat dan murah.

Sebelum wawancara diakhiri karena Mas Lukman akan memasak untuk makan malam kami, Mas Lukman sempat menitipkan salam dan pesan bagi warga Yogya dengan aksennya yang khas Yogya dan mendayu, ” Bersyukurlah Anda pernah merasakan tinggal di Yogya.”

—oleh Enade