Mbah Bilal, Pengrajin Batik
Tahukah anda, salah satu sentra pembuatan batik tulis di Jogjakarta adalah di Giriloyo, Imogiri? Batik memang ada macam-macam, batik tulis dan cap. Siang itu saya berkesempatan bertemu dengan salah seorang penduduk yang masih menekuni batik tulis sebagai penghasilan utama keluarga. Lokasinya sendiri tak jauh di bawah bukit tempat dimakamkannya raja-raja Mataram.
Ya, siang itu mbah Bilal tampak sedang menorehkan cairan malam di atas kainnya. Pekerjaannya sudah hampir 75% selesai. Satu lembar kain 2 x 1 meter, bisa diselesaikan dalam waktu 2 minggu atau bahkan lebih. “Naming ngge samben kok nak, sak selane” (cuma untuk sambilan kok nak, dikerjakan di kala senggang saja), mbah Bilal menjelaskan. Memang hampir disetiap rumah di desa tersebut perajin batik, entah milik sendiri atau cuma mengerjakan orderan dari juragan batik. Ada juga yang bekerja dalam bentuk paguyuban.
Sayangnya, bagi mereka yang hanya mengerjakan order dari pengusaha, kain yang telah ditulis dengan malam hanya dihargai 250 ribu hingga 500 ribu, tergantung tingkat kesulitan. Bagi saya tentu ini tidak sebanding dengan kerja keras dan keterampilan yang telah dicurahkan mbah Bilal selama mengerjakannya. “Mbangane mboten onten nak” (daripada tidak dapat sama sekali nak), nrimo, ya begitulah mbah Bilal. Di Giriloyo masih banyak mbah Bilal yang lain. Saat ditanya tentang batik yang sudah dipatenkan oleh negara lain, mbah Bilal hanya menggeleng tidak tahu.
—oleh Annots







Komentar Terbaru