Arsip untuk Tag: Alun-alun

Ganis Garzella, Pedangdut Belia

Dengan panggung tanah lembab dan tata-lampu matahari sore, Ganis (14) melantunkan lagu dangdut besutan Matta Band. Sesekali ia bergoyang bak Inul Daratista.

‘Oh-oh, kamu ketahuan! Pacaran lagi… Dengan dirinya, teman baikku…’

Sore itu di alun-alun Jogja, puluhan orang berkerumun menonton seniman remaja ini beraksi. Memang baru puluhan orang, belum ratusan atau ribuan layaknya seorang diva. Tapi, di usia belia ini, Ganis baru saja memulai karirnya  dalam bidang musik dangdut.

Sayang matahari keburu tenggelam dan adzan telanjur bertalu. Pertunjukan harus rehat sejenak, juga Ganis. Ia mesti pulang dengan ibundanya. Barulah jam 7 malam ia kembali ke alun-alun untuk melanjutkan pertunjukan. Kali ini ia berganti kostum hitam-hitam, senada dengan warna malam.

“Orangtuaku mendukungku,” ujarnya. Gen berkesenian sepertinya memang mengalir dari keluarganya. Kakeknya seorang seniman karawitan Jawa. Ayahnya penggemar setia lagu-lagu Koes Plus, sementara ibunya seorang seniman karawitan. Dalam rumah yang sarat dengan aura bermusik, Ganis ‘menemukan’ hasrat menjadi penyanyi saat ia kelas 5 SD.

Dia baru kelas 2 SMP. Walaupun kegiatannya sering sampai malam, sekolahnya tak terganggu. Ia sering masuk ranking 5 besar. Ketika ditanya, apa teman-temannya suka menggosipkan kegiatannya, Ganis menjawab: “Iya, sering dibilang ‘itu tuh… artis tuh…’. Tapi mereka cuma bercanda.”

Ia bergabung dengan O.M. Satria. Bersama biduanita seperti Yully Afidza dan Rinda Yusnita, Ganis manggung setiap malam minggu di Purawisata. Ia punya goyang khasnya sendiri. Namanya Goyang Enerjik.

“Itu goyangnya pake pita,” jelasnya dengan penuh percaya diri.

—oleh Herman

Pak Min, Resep Lekernya Turun Temurun

Gerobak dorong bercat biru milik Pak Min tidaklah istimewa seandainya ia tidak berjualan Leker. Makanan klasik ini mirip crêpe yang khas Perancis itu, tapi telah mengalami akulturasi dengan kekhasan lokal hingga menjadi Leker yang sering kita dapati di SD-SD.

Sore itu di tepi Alun-Alun Utara Jogja, Pak Min menuangkan adonan Leker ke dalam empat loyang panas. Lalu dengan cekatan ia mencacah pisang matang ke tiap-tiap leker, serta tak lupa menuangkan gula dan susu kental coklat. Tak lama kemudian voilà!: jadilah empat buah Leker yang siap disantap panas-panas.

Pria paruh baya ini sudah berjualan Leker sejak tahun 70-an. Selain di Alun-alun, ia biasa berjualan di BNI dekat Kraton dan di Pakualaman. “Harus pindah-pindah mas kalau jualan,” jelas pria paruh baya itu. Mungkin maksudnya kalau cuma di satu tempat pembelinya jadi jenuh.

Ketika ditanya resep rahasianya, tanpa ragu-ragu Pak Min menyebutkan tepung terigu, tepung beras, mentega, dan telur. Konon, resep ini ia peroleh dadi pamannya dan masih ia gunakan hingga saat ini. Sang putra rupanya juga berjualan Leker dengan resep yang sama.

–oleh Herman Saksono