Pak Siswanto, Penunggu Teman

Pak Siswanto, bekerja sebagai distributor jamu – jamu ke berbagai toko di wilayah Jogja. Sebagai putra dari seorang abdi dalem, dan bertempat tinggal di wilayah Panembahan yang juga masih di ‘jeron beteng’ membuat lelaki berusia 59 tahun ini mengenal dengan baik Kraton dan segala serba-serbinya.

Lelaki tua ini telah memiliki 3 orang anak, ketiganya sudah ‘mentas’ atau mencari nafkah sendiri. Putra pertama sudah ada di ibukota, dan yang kedua ada di Semarang. Sedangkan putra ketiga, bersekolah di Boyolali, diangkat anak oleh salah seorang Kepala Sekolah di Boyolali.

Pak Siswanto memang mulanya pendiam. Namun ajaklah berbicara dengan pancingan beberapa isu aktual, maka Pak Siswanto akan banyak bercerita tentang sisik-melik segala persoalan. Mulai tentang intrik di dalam kalangan Kraton, tentang serba-serbi kehidupan abdi dalem, tentang pemberantasan antek-antek PKI ketika Gestapu silam waktu beliau baru saja lulus SR (Sekolah Rakjat), sampai juga pada pembicaraan geger partai politik dan pemilu. Belum lagi soal kegeraman Pak Siswanto dengan maraknya korupsi di jalur birokrasi tanah air dan banyaknya orang-orang kalangan atas yang ikut ‘nilep’ bantuan Gempa Jogja Mei 2006 silam.

Tidak sulit menemukan Pak Siswanto. Di bawah pohon beringin tepat di sisi dalam area Siti Hinggil, hampir setiap sore Pak Siswanto duduk-duduk di situ. Saat ditanya, apa kegiatan yang dilakukan di area Siti Hinggil? Pak Siswanto menjawab : “Menunggu teman”.

—oleh Antobilang, Ekowanz, dan Funkshit.