<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wajah Jogja</title>
	<atom:link href="http://wajahjogja.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wajahjogja.com</link>
	<description>Kisah tokoh-tokoh yang membuat Jogja lengkap</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Jan 2009 23:27:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Nasrul: &#8220;Jogja yang Memilih Ayah&#8221;</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/nasrul-jogja-yang-memilih-ayah/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/nasrul-jogja-yang-memilih-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 23:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[malioboro]]></category>
		<category><![CDATA[nasrul]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[pasar kembang]]></category>
		<category><![CDATA[stasiun tugu]]></category>
		<category><![CDATA[warung makan padang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=549</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/ayah_wj1.jpg"></a>Ayah, begitu Nasrul biasa dipanggil, pernah berdagang dengan cara yang unik: jika ada kapal yang berlabuh di Jakarta, ia akan ikut kapal itu, sepanjang tujuannya ke arah timur, apa pun kota tujuannya. Di pelabuhan tujuan itulah ia berdagang kaki lima.
Pada awal 1980-an, Ayah dipanggil ke Jogja oleh saudaranya, seorang pengusaha warung makan Padang. Ia diajak bekerja di warung&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/ayah_wj1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-551" title="ayah_wj1" src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/ayah_wj1.jpg" alt="" width="180" height="241" /></a>Ayah, begitu Nasrul biasa dipanggil, pernah berdagang dengan cara yang unik: jika ada kapal yang berlabuh di Jakarta, ia akan ikut kapal itu, sepanjang tujuannya ke arah timur, apa pun kota tujuannya. Di pelabuhan tujuan itulah ia berdagang kaki lima.</p>
<p>Pada awal 1980-an, Ayah dipanggil ke Jogja oleh saudaranya, seorang pengusaha warung makan Padang. Ia diajak bekerja di warung makan Padang &#8220;Palitu Aalam&#8221; di sekitar Pasar Kembang. Sebelumnya, pada 1971-1976, sebelum berkelana dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, Ayah juga sempat bekerja pada orang yang sama, tepatnya di warung makan Padang &#8220;Wiena&#8221; yang berlokasi tak jauh dari Stasiun Tugu. Setelah ditinggalkan Ayah berkelana, warung makan &#8220;Wiena&#8221; mulai merosot dan akhirnya dijual ke salah satu kerabat Presiden Soeharto.</p>
<p>Ayah kembali ke Jogja saat saudaranya tadi itu mendirikan warung makan padang &#8220;Palitu Alam&#8221;. Sembari bekerja di &#8220;Palitu Alam&#8221;, Ayah ikut belajar mengelola warung makan, dari mulai memasak, melayani pelanggan, hingga mengelola keuangan.</p>
<p>Berbekal pengalaman itulah Ayah akhirnya membuka warung makan Padang sendiri pada 2004 silam, tak jauh dari supermarket Ramayana di Malioboro. Ia menamai warungnya sama persis dengan nama panggilannya: &#8220;AYAH&#8221;.</p>
<p>Kini Ayah sudah berusia 58 tahun. Dan tiap kali ditanya kenapa memutuskan menetap di Jogja, Ayah selalu punya jawaban metaforik. Katanya, &#8220;Bukan Ayah yang pilih Jogja, tapi Jogja yang memilih Ayah.&#8221;</p>
<p>&#8211;oleh <strong><a href="http://choro.wordpress.com">Choro</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/nasrul-jogja-yang-memilih-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harsha Tanjung, &#8220;Jogja Itu Prospek Banget Buat Ngeband&#8221;</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/harsha-tanjung-jogja-itu-prospek-banget-buat-ngeband/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/harsha-tanjung-jogja-itu-prospek-banget-buat-ngeband/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 08:32:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antobilang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/harshatjs.jpg"></a>NUANCE diklaim Harsha Tanjung sebagai band alternatif pertama di Jogja. Ia sendiri yang mendirikannya pada 1994. Ketiadaan visi yang sama di internal NUANCE plus desakan merampungkan skripsi memaksanya “turun panggung” sebagai musisi dan memutuskan hanya berada di belakang layar saja.
Keputusan untuk menanggalkan karir sebagai musisi diakuinya sebagai keputusan yang berat. Di waktu-waktu tertentu, hasrat untuk tampil di atas&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/harshatjs.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-540" title="harshatjs" src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/harshatjs.jpg" alt="" width="180" height="241" /></a>NUANCE diklaim Harsha Tanjung sebagai band alternatif pertama di Jogja. Ia sendiri yang mendirikannya pada 1994. Ketiadaan visi yang sama di internal NUANCE plus desakan merampungkan skripsi memaksanya “turun panggung” sebagai musisi dan memutuskan hanya berada di belakang layar saja.</p>
<p>Keputusan untuk menanggalkan karir sebagai musisi diakuinya sebagai keputusan yang berat. Di waktu-waktu tertentu, hasrat untuk tampil di atas panggung sebagai musisi kadang masih sering muncul. Tapi dadu sudah dilempar, keputusan sudah diambil. “Itu keputusan yang berat, tapi tidak pernah aku sesali,&#8221; ujarnya mantap.</p>
<p>Sejak itu ia malang melintang di panggung hiburan musik. Dia pernah menjadi roadies/tim produksi “Slank”. Pernah pula ia menjadi road manager-nya “Jikustik”. Terakhir, hingga kini, Harsha masih bekerja sebagai road manager band Seventeen, salah satu band asal Jogja yang sedang moncer.</p>
<p>Ia menilai, musisi sekarang ini sukar mendapat penghasilan signifikan dari royalti penjualan kaset atau CD. Pembajakan sudah terlampau mengakar kuat. Penghasilan terbesar musisi di zaman sekarang hanya diperoleh –terutama—dari ring back tone dan konser-konser atau acara off-air saja. Musisi-musisi muda di Jogja sendiri dianggapnya gamang menyikapi persoalan antara idealisme dan industri. Masih banyak yang memaksakan idealismenya dalam bermusik. Padahal, satu-satunya cara agar bisa terus eksis adalah mencari jalan tengah yang selaras antara tuntutan industri dan hasrat mengibarkan idealisme.</p>
<p>Kendati demikian, katanya lagi, “Jogja masih tetap prospek <em>banget</em> buat <em>ngeband,</em> banyak musisi hebat lahir di kota ini!”</p>
<p>&#8211;oleh <a href="http://ekowanz.info/" target="_self"><strong>Ekowanz</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/harsha-tanjung-jogja-itu-prospek-banget-buat-ngeband/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbah Arek: Pada Kelopak Bunga Kemboja</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/mbah-arek-pada-kelopak-bunga-kemboja/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/mbah-arek-pada-kelopak-bunga-kemboja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 23:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[agresi militer]]></category>
		<category><![CDATA[bunga kemboja]]></category>
		<category><![CDATA[kali progo]]></category>
		<category><![CDATA[miliran]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tamansari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/mbah-arek.jpg"></a>Tak sengaja saya bertemu dengannya. Dia yang sore itu sedang membereskan kembang-kembang kamboja yang berserakan di kompleks pemakaman Taman Sari, tepat di depan rumahnya.  
Kuburan dan kembang kamboja adalah hidupnya kini. Dulu, pada masa muda, ia melakoni banyak hal, termasuk menjadi prajurit pada masa revolusi. Usai Agresi Militer ke-II, ia kembali ke Jogja setelah lama berkiprah di Surabaya. Sempat&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/mbah-arek.jpg"><img src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2009/01/mbah-arek.jpg" alt="" title="mbah-arek" width="180" height="241" class="alignnone size-full wp-image-535" /></a>Tak sengaja saya bertemu dengannya. Dia yang sore itu sedang membereskan kembang-kembang kamboja yang berserakan di kompleks pemakaman Taman Sari, tepat di depan rumahnya.  </p>
<p>Kuburan dan kembang kamboja adalah hidupnya kini. Dulu, pada masa muda, ia melakoni banyak hal, termasuk menjadi prajurit pada masa revolusi. Usai Agresi Militer ke-II, ia kembali ke Jogja setelah lama berkiprah di Surabaya. Sempat ditawari pensiun, tapi jiwa mudanya terlalu angkuh untuk menerima asupan subsidi.</p>
<p>Suatu ketika ia bersemedi di Kali Progo. Di situ, turun wisik yang menyebutkan bahwa ia harus berkunjung ke makam di daerah Miliran. Ke sanalah dia, dan ditemukannya cincin akik berwarna hitam. Cincin itu ia kenakan dan sontak –dengan serta merta&#8211; ia merasa “pengetahuan” sudah mengeram dalam dirinya. </p>
<p>Tapi ia khilaf karena suatu sebab. Dilanggaranya pantangan, dimamahnya nasi dan datanglah hukuman: cincin itu hilang begitu saja. “Saya hampir gila,” ujarnya. </p>
<p>Kini, sejak dua tahun lalu, ia menggantungkan hidup pada kembang kamboja yang ia kumpulkan di seantero Taman Sari, juga sisa-sisa bunga yang ada di makam-makam. Setelah terkumpul lebih kurang lima kilo, kembang kamboja yang sudah kering itu akan diambil oleh seorang “utusan”.  Kembang kamboja itu, katanya, untuk bahan membuat sabun, obat nyamuk, dan lain rupa. </p>
<p>Ia punya pengertian sendiri tentang jumlah kelopak kemboja. Normalnya, kelopak bunga kamboja ada lima. Dalam kepercayaan Jawa, kata Mbah Arek (82 tahun), jika ada kembang kamboja yang berkelopak genap (4, 6, dan 8), maka yang memilikinya akan memeroleh keberuntungan sebanyak jumlah kelopak yang ditemukannya. </p>
<p>Iseng saya memilih-milih kembang kamboja sebagai kenang-kenangan. Saya malah menemukan kembang kamboja berkelopak enam. Saya tidak tahu, adakah enam keberuntungan yang akan saya dapatkan.</p>
<p>&#8211; oleh <abbr title="Mahasiswa tingkat akhir di Sastra Inggris Univ. Sanata Dharma"><strong>Fian Khairunnisa</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/mbah-arek-pada-kelopak-bunga-kemboja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahma: &#8220;Kapan ke Jogja Lagi?&#8221;</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/rahma-kapan-ke-jogja-lagi/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/rahma-kapan-ke-jogja-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 22:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[catur tunggal]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[karate]]></category>
		<category><![CDATA[lampung]]></category>
		<category><![CDATA[transjogja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/ame_wj1.jpg"></a>Ia bilang, &#8220;Tak pernah saya berpikir keluar dari Jogja. Dulu pernah, tapi kini tidak lagi. Jika pun kelak harus dengan terpaksa mencari tempat baru, mungkin itu Bali, kota yang memang sepadan dengan Jogja.&#8221;
Menetap di Jogja sejak 1999, tak pernah lama-lama ia meninggalkan kota ini. Pernah mencari peruntungan di Batam, Bandung dan Jakarta, tapi Jogja seperti selalu memanggilnya kembali,&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/ame_wj1.jpg"><img src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/ame_wj1.jpg" alt="" title="ame_wj1" width="180" height="240" class="alignnone size-full wp-image-529" /></a>Ia bilang, &#8220;Tak pernah saya berpikir keluar dari Jogja. Dulu pernah, tapi kini tidak lagi. Jika pun kelak harus dengan terpaksa mencari tempat baru, mungkin itu Bali, kota yang memang sepadan dengan Jogja.&#8221;</p>
<p>Menetap di Jogja sejak 1999, tak pernah lama-lama ia meninggalkan kota ini. Pernah mencari peruntungan di Batam, Bandung dan Jakarta, tapi Jogja seperti selalu memanggilnya kembali, hingga hari ini, sampai kalender hendak berganti 2009. Itu artinya satu dasawarsa ia tinggal di sini. Ia memang tak begitu doyan berpindah-pindah. Selama kuliah, dari 1999 hingga 2005, ia tak pernah pindah kost. Selalu di sana, di salah satu kampung di Catur Tunggal.</p>
<p>Merantau ke Jogja baginya seperti mengasah keberanian untuk hidup sendiri, mungkin juga mandiri. Terbiasa dimanja sejak kecil, ia berubah menjadi perempuan penyandang sabuk hitam karate &#8211;kendati kini mengaku tak pernah lagi latihan. Di tahun pertamanya di Jogja, ia sudah menggondol emas di nomer &#8220;kata&#8221; pada Kejurda Karate. Padahal, dulu, saat masih di Lampung, tak berani ia mengadu otot di gelanggang.</p>
<p>Di sela kesibukannya bekerja di sebuah developer, ia masih menyempatkan diri menelusuri jalanan Jogja. Kadang hanya untuk menghabiskan waktu. TransJogja membuatnya merasa leluasa menapaki Jogja, kapan pun ia mau.</p>
<p>Desember ini ia berusia 28 tahun dan ku sodorkan beberapa buku prosa sebagai kadonya. Lalu, seperti biasanya, ia bertanya, &#8220;Kapan ke Jogja lagi?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/rahma-kapan-ke-jogja-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rupa-Rupa Wajah</title>
		<link>http://wajahjogja.com/ruparupa/rupa-rupa-wajah/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/ruparupa/rupa-rupa-wajah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 06:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antobilang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/topeng.jpg"></a>Rupa-rupa cuma cuwilan kecil dari Wajah. Tidak akan menjadi sentral, tapi cuma di pinggiran saja melengkapi yang kurang-kurang. Bukan supaya nendang, tapi supaya laras, pantes.
Melalui &#8220;Rupa-rupa&#8221;, kami ingin bercerita tentang kisah di balik kisah, tentang interaksi ketika kami mengisi situs kecil ini.
Maka, jika sempat, sila kunjungi bagian <a href="http://wajahjogja.com/kategori/ruparupa/">Rupa-rupa</a>.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/topeng.jpg"><img class="size-medium wp-image-510 alignleft" title="topeng" src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/topeng-200x100.jpg" alt="" width="200" height="100" /></a>Rupa-rupa cuma cuwilan kecil dari Wajah. Tidak akan menjadi sentral, tapi cuma di pinggiran saja melengkapi yang kurang-kurang. Bukan supaya nendang, tapi supaya laras, pantes.</p>
<p>Melalui &#8220;Rupa-rupa&#8221;, kami ingin bercerita tentang kisah di balik kisah, tentang interaksi ketika kami mengisi situs kecil ini.</p>
<p>Maka, jika sempat, sila kunjungi bagian <a href="http://wajahjogja.com/kategori/ruparupa/">Rupa-rupa</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/ruparupa/rupa-rupa-wajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ki Hadi Sutikno, Mendalang dengan Hati</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/ki-hadi-sutikno-mendalang-dengan-hati/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/ki-hadi-sutikno-mendalang-dengan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 09:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antobilang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[dalang]]></category>
		<category><![CDATA[gagrak jogja]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/pak-tik.jpg"></a>Bagi Ki Hadi Sutikno, keindahan pertunjukan wayang kulit tidaklah bertumpu pada adegan perang, lantunan puisi, atau nyanyi-nyanyiannya. Itu cuma pelengkap. Baginya, nyawa boneka wayang ditiupkan melalui penghayatan karakter yang dituangkan menjadi arus konflik dan aliran emosi.
Mungkin prinsip itu yang membuatnya mampu memukau penonton Festival Wayang Indonesia II sekaligus ditahbiskan para juri sebagai penyaji terbaik.
Padahal, mulanya ia sempat&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/pak-tik.jpg"><img class="size-full wp-image-501 alignleft" title="pak-tik" src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/pak-tik.jpg" alt="" width="180" height="240" /></a>Bagi Ki Hadi Sutikno, keindahan pertunjukan wayang kulit tidaklah bertumpu pada adegan perang, lantunan puisi, atau nyanyi-nyanyiannya. Itu cuma pelengkap. Baginya, nyawa boneka wayang ditiupkan melalui penghayatan karakter yang dituangkan menjadi arus konflik dan aliran emosi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin prinsip itu yang membuatnya mampu memukau penonton Festival Wayang Indonesia II sekaligus ditahbiskan para juri sebagai penyaji terbaik.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, mulanya ia sempat merasa gentar. “Mulai berangkat dari rumah, saya sudah <em>down</em>, <em>stress</em>, karena faktor usia. Usia saya sudah 55. (Dalang) Jagoan lain muda-muda mas!” tuturnya. ia memang tidak punya pilihan lain: Pepadi DIY mendaulatnya untuk mewakili Jogja.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi gentar itu tak nampak saat ia membawakan lakon &#8220;Salya Gugur&#8221;. Bukan hanya didapuk sebagai penyaji terbaik, timnya juga mendapat penghargaan pengarahan musik terbaik, kebetulan digarap putranya sendiri yang juga seorang dalang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Anak saya itu gurunya banyak, gurunya di mana-mana,” kata Ki Tikno. Seperti putranya, ia juga belajar mendalang di mana-mana. Kendati dilahirkan dari keluarga dalang, tak pernah ia diajari mendalang. Ia cuma disuruh menonton tiap kali ayahnya mentas. “<abbr title="Kamu nonton Ayah. Kalau nggak bisa menirukan, keterlaluan!">Tontonen. Nek raiso niruake, kebangeten!</abbr>” katanya menirukan petuah sang ayah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia sempat ikut grup kethoprak keliling dan dari sana ia pelajari seni drama. Dalang-dalang ngetop seperti Ki Hadi Sugito dan Ki Timbul Hadiprayitno juga pernah ia ikuti. Pada keduanya, ia hanya menabuh gamelan sambil mencermati aksi dan kekhasan mereka. Ia juga rutin mengamati permainan dalang-dalang lain.  Dari situ ia menyusun gayanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Baginya, mendalang bukan sesuatu yang <em>textbook</em>. Walaupun alur cerita dan lagunya sudah baku, Ia berimprovisasi melalui dialog sambil sesekali menyelipkan kearifan lokal di sana sini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau ditanya bukunya di mana, ya di sini,” katanya, kali ini sambil menunjuk dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">—oleh <a href="http://hermansaksono.com">Ki Saksono</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/ki-hadi-sutikno-mendalang-dengan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ganis Garzella, Pedangdut Belia</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/ganis-garzella-pedangdut-belia/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/ganis-garzella-pedangdut-belia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 12:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antobilang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Alun-alun]]></category>
		<category><![CDATA[dangdut]]></category>
		<category><![CDATA[OM]]></category>
		<category><![CDATA[orkes melayu]]></category>
		<category><![CDATA[purawisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/garzella-wj.jpg"></a>Dengan panggung tanah lembab dan tata-lampu matahari sore, Ganis (14) melantunkan lagu dangdut besutan Matta Band. Sesekali ia bergoyang bak Inul Daratista.
‘Oh-oh, kamu ketahuan! Pacaran lagi… Dengan dirinya, teman baikku&#8230;’
Sore itu di alun-alun Jogja, puluhan orang berkerumun menonton seniman remaja ini beraksi. Memang baru puluhan orang, belum ratusan atau ribuan layaknya seorang diva. Tapi, di usia belia&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/garzella-wj.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-471" title="garzella-wj" src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/garzella-wj.jpg" alt="" width="180" height="240" /></a>Dengan panggung tanah lembab dan tata-lampu matahari sore, Ganis (14) melantunkan lagu dangdut besutan Matta Band. Sesekali ia bergoyang bak Inul Daratista.</p>
<p>‘Oh-oh, kamu ketahuan! Pacaran lagi… Dengan dirinya, teman baikku&#8230;’</p>
<p>Sore itu di alun-alun Jogja, puluhan orang berkerumun menonton seniman remaja ini beraksi. Memang baru puluhan orang, belum ratusan atau ribuan layaknya seorang diva. Tapi, di usia belia ini, Ganis baru saja memulai karirnya  dalam bidang musik dangdut.</p>
<p>Sayang matahari keburu tenggelam dan adzan telanjur bertalu. Pertunjukan harus rehat sejenak, juga Ganis. Ia mesti pulang dengan ibundanya. Barulah jam 7 malam ia kembali ke alun-alun untuk melanjutkan pertunjukan. Kali ini ia berganti kostum hitam-hitam, senada dengan warna malam.</p>
<p>“Orangtuaku mendukungku,” ujarnya. Gen berkesenian sepertinya memang mengalir dari keluarganya. Kakeknya seorang seniman karawitan Jawa. Ayahnya penggemar setia lagu-lagu Koes Plus, sementara ibunya seorang seniman karawitan. Dalam rumah yang sarat dengan aura bermusik, Ganis ‘menemukan’ hasrat menjadi penyanyi saat ia kelas 5 SD.</p>
<p>Dia baru kelas 2 SMP. Walaupun kegiatannya sering sampai malam, sekolahnya tak terganggu. Ia sering masuk ranking 5 besar. Ketika ditanya, apa teman-temannya suka menggosipkan kegiatannya, Ganis menjawab: “Iya, sering dibilang ‘itu tuh… artis tuh…’. Tapi mereka cuma bercanda.”</p>
<p>Ia bergabung dengan <abbr title="Orkes Melayu">O.M.</abbr> Satria. Bersama biduanita seperti Yully Afidza dan Rinda Yusnita, Ganis manggung setiap malam minggu di Purawisata. Ia punya goyang khasnya sendiri. Namanya Goyang Enerjik.</p>
<p>“Itu goyangnya pake pita,” jelasnya dengan penuh percaya diri.</p>
<p>—oleh <a href="http://hermansaksono.com">Herman</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/ganis-garzella-pedangdut-belia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faustinus Handi: Tak Ada Deja Vu untuk Gejayan</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/faustinus-handi-tak-ada-deja-vu-untuk-gejayan/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/faustinus-handi-tak-ada-deja-vu-untuk-gejayan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 02:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[gejayan]]></category>
		<category><![CDATA[kartografer]]></category>
		<category><![CDATA[mrican]]></category>
		<category><![CDATA[pasar demangan]]></category>
		<category><![CDATA[sma de britto]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku social agency]]></category>
		<category><![CDATA[uny]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/nday.jpg"></a>“Gejayan selalu terlihat muda,” kata Faustinushandi (29 thn), &#8220;Sementara aku tahu-tahu sudah tua.&#8221;
Ia punya ingatan yang khusyuk tentang Gejayan. Inilah ruas jalan yang paling sering dilewatinya, lebih dari jalan mana pun di Jogja. Selama studi di Jogja, dari SMA hingga S-2, nyaris setiap hari ia melintasinya. Ia memang selalu kost tak jauh dari Jalan Gejayan, tepatnya di kampung&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/nday.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-449" title="nday" src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/nday.jpg" alt="" width="180" height="240" /></a>“Gejayan selalu terlihat muda,” kata Faustinushandi (29 thn), &#8220;Sementara aku tahu-tahu sudah tua.&#8221;</p>
<p>Ia punya ingatan yang khusyuk tentang Gejayan. Inilah ruas jalan yang paling sering dilewatinya, lebih dari jalan mana pun di Jogja. Selama studi di Jogja, dari SMA hingga S-2, nyaris setiap hari ia melintasinya. Ia memang selalu kost tak jauh dari Jalan Gejayan, tepatnya di kampung Mrican.</p>
<p>Saat masih sekolah di De-Britto, sering ia habiskan malam di angkringan di ujung selatan Gejayan, dekat Pasar Demangan. Cukup sering malam-malam ia jalan kaki menyusuri Gejayan bersama kekasihnya untuk nonton film di Empire &#8211;juga&#8211; di ujung selatan Gejayan. Sewaktu mulai serius belajar menulis di koran, kantor pos di Gejayan dekat gerbang UNY selalu jadi pilihannya mengeposkan tulisan. Tulisan pertamanya yang dimuat di Kompas (resensi biografi Soe Hok Gie karya John Maxwel) juga dikirimkan dari kantor pos itu. Di toko buku Social Agency Gejayan pula mayoritas buku-buku koleksinya ia beli. &#8220;Saya mengenal Catatan Pinggir Goenawan Mohamad dari toko buku di Gejayan itu,&#8221; ujarnya mengenang.</p>
<p>Ia kini menetap di Jakarta. Pekerjaannya sebagai kartografer di Badan Pertanahan Nasional membuatnya sering mengunjungi kota-kota yang jauh. Sudah banyak catatan perjalanan yang ia tulis, kebanyakan ditampilkan di <a href="http://lamanday.wordpress.com/">blog pribadinya</a>, sebagian lagi ia publikasikan di <a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/11/30/Perjalanan/krn.20081130.149581.id.html">Koran Tempo</a>. Tapi, di kota-kota yang sudah ia singgahi dan pernah ditulisnya itu, tak pernah ia temukan jalan yang aroma dan suasananya seperti Gejayan.Untuknya, Gejayan tak pernah hadir sebagai deja vu.</p>
<p>Ia tahu Hotel Radisson di Gejayan sudah ganti nama jadi Jogja Plaza, seperti ia juga tahu Gejayan telah bersalin nama menjadi Jalan Affandi. Tapi dalam ingatanmu, tanya saya padanya, selamanya hanya ada Jalan Gejayan, bukan?</p>
<p>Dengan datar tapi pasti ia menjawab: &#8220;Ya!&#8221;<br />
<em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/faustinus-handi-tak-ada-deja-vu-untuk-gejayan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbah Martodiryo, Jelaga yang Bikin Kangen</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/mbah-martodiryo-jelaga-yang-bikin-kangen/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/mbah-martodiryo-jelaga-yang-bikin-kangen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 21:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antobilang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[bantul]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[gudeg]]></category>
		<category><![CDATA[mbah marto]]></category>
		<category><![CDATA[sewon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/mbah-marto.jpg"></a>Kebersihan sebagian daripada iman, kata sebuah hadis. Kebersihan makanan mendatangkan pelanggan, kata seorang ahli kuliner. Tapi, bisakah dapur yang kotor oleh hitamnya jelaga justru bikin pelanggan merasa kangen? Bagi Mbah Marto, jawabannya: bisa!
Ketika gempa membikin sebagian Jogja bagian selatan lantak, banyak pelanggan yang mencari bagaimana kabar Mbah Marto (78 thn) dan warung gudegnya yang berada di Saraban, Sewon,&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/mbah-marto.jpg"><img class="size-full wp-image-432 alignleft" title="mbah-marto" src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/mbah-marto.jpg" alt="" width="180" height="240" /></a>Kebersihan sebagian daripada iman, kata sebuah hadis. Kebersihan makanan mendatangkan pelanggan, kata seorang ahli kuliner. Tapi, bisakah dapur yang kotor oleh hitamnya jelaga justru bikin pelanggan merasa kangen? Bagi Mbah Marto, jawabannya: bisa!</p>
<p>Ketika gempa membikin sebagian Jogja bagian selatan lantak, banyak pelanggan yang mencari bagaimana kabar Mbah Marto (78 thn) dan warung gudegnya yang berada di Saraban, Sewon, Bantul. Setelah memastikan Mbah Marto dan warungnya selamat, salah seorang pelanggannya malah berpesan: &#8220;<abbr title="dapur ini jangan diganti mbah, justru hitamnya jelaga yang membuat rindu/kangen">Pawonmu iki ojo digenti mbah, ireng e sing marai kangen</abbr>&#8220;.</p>
<p>Banyak yang sudah jadi pelanggan sedari Mbah Marto masih berjualan gudeg keliling. 25 tahun silam, saat Mbah Marto memutuskan untuk membuka warung di kediamannya, banyak pelanggan yang tetap memburu gudeg racikannya kendati harus <em>blusukan </em>sampai ke pelosok Bantul.</p>
<p>Mbah Marto berusaha sebisa mungkin memuaskan pelanggannya, termasuk dengan tidak pernah libur berjualan. Katanya, &#8220;<abbr title="Kasihan sudah jauh-jauh datang dari kota, sampai di sini kecewa">Mesaake wis adoh-adoh seko kutho, tekan kene kecelik</abbr>&#8220;.</p>
<p>Mbah Marto juga berusaha membangun suasana kekeluargaan dan keakraban yang tidak dibuat-dibuat. Pelanggannya biasa menyantap gudeg atau lele mangut racikan Mbak Marto sembari duduk di kursi bambu, bebas menambah porsi nasi sendiri langsung dari periuk, termasuk leluasa nyelonong ke dapur. Jangan heran jika di dapurnya yang berjelaga satu waktu Anda mungkin melihat ada nyonya-nyonya yang putih oleh pupur dan menor oleh lipstick.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/mbah-martodiryo-jelaga-yang-bikin-kangen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Mugi, Selama Becak Masih Ada&#8230;.</title>
		<link>http://wajahjogja.com/tokoh/pak-mugi-selama-becak-masih-ada/</link>
		<comments>http://wajahjogja.com/tokoh/pak-mugi-selama-becak-masih-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 09:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[becak]]></category>
		<category><![CDATA[bengkel becak]]></category>
		<category><![CDATA[gedong kiwo]]></category>
		<category><![CDATA[montir]]></category>
		<category><![CDATA[ngabean]]></category>
		<category><![CDATA[pak mugi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wajahjogja.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/mugi_wj.jpg"></a>Pada mulanya adalah <em>payon</em> (atap becak) yang tiba-tiba rusak padahal setoran narik becak belum pula terkumpul. Terpaksa ia membetulkannya sendiri. Ternyata berhasil. Kebetulan yang menyenangkan itu akhirnya mengubah jalan hidup Pak Mugi (68 thn): Ia beralih profesi dari penarik becak menjadi montir becak.
Bermodal sisa tabungan plus patungan dengan seorang temannya, bengkel pun dibuka di Taman Parkir Ngabean. Setelah&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/mugi_wj.jpg"><img src="http://wajahjogja.com/wp-content/uploads/2008/12/mugi_wj.jpg" alt="" title="mugi_wj" width="180" height="240" class="alignnone size-full wp-image-440" /></a>Pada mulanya adalah <em>payon</em> (atap becak) yang tiba-tiba rusak padahal setoran narik becak belum pula terkumpul. Terpaksa ia membetulkannya sendiri. Ternyata berhasil. Kebetulan yang menyenangkan itu akhirnya mengubah jalan hidup Pak Mugi (68 thn): Ia beralih profesi dari penarik becak menjadi montir becak.</p>
<p>Bermodal sisa tabungan plus patungan dengan seorang temannya, bengkel pun dibuka di Taman Parkir Ngabean. Setelah berani mendeklarasikan bengkelnya sebagai “bengkel khusus becak”, Pak Mugi pun mulai menangguk reputasi. Namanya dikenal di Yogyakarta, bahkan hingga daerah sekitar seperti Muntilan, Purworejo, dan Klaten.</p>
<p>Kini bengkelnya pindah ke Gedong Kiwo, tepat di belakang Pos Polantas Pojok Beteng Kulon. Untuk menuju ke sana, Pak Mugi mesti berangkat pagi-pagi dari rumahnya di Pandak dengan naik bus. Jam 8 pagi, bengkel itu sudah mulai beroperasi. Pak Mugi bisa memperbaiki kaki-kaki becak, sistem pengereman, payon (atap penumpang), kursi penumpang, hingga melukis di atas selebor becak.Tarif mereparasi becak sebesar Rp. 115.000 dan biasanya selesai setengah hari. </p>
<p>Dari usahanya ini ia bisa menyekolahkan lima anaknya hingga bangku sekolah menengah. Empat anak pertamanya sudah bekerja semua, sementara yang terkecil masih duduk di SMU I Sanden, Bantul. Ia akan terus menjadi montir becak, mungkin sampai ia tutup usia, entah kapan itu.</p>
<p>Pokoknya, kata Pak Mugi, &#8220;Selama becak masih ada di Jogja&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8211; Oleh <a href="tubbiesidiz@yahoo.com">St. Andre Wicaksono</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wajahjogja.com/tokoh/pak-mugi-selama-becak-masih-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

