Pak Min, Resep Lekernya Turun Temurun
Gerobak dorong bercat biru milik Pak Min tidaklah istimewa seandainya ia tidak berjualan Leker. Makanan klasik ini mirip crêpe yang khas Perancis itu, tapi telah mengalami akulturasi dengan kekhasan lokal hingga menjadi Leker yang sering kita dapati di SD-SD.
Sore itu di tepi Alun-Alun Utara Jogja, Pak Min menuangkan adonan Leker ke dalam empat loyang panas. Lalu dengan cekatan ia mencacah pisang matang ke tiap-tiap leker, serta tak lupa menuangkan gula dan susu kental coklat. Tak lama kemudian voilà!: jadilah empat buah Leker yang siap disantap panas-panas.
Pria paruh baya ini sudah berjualan Leker sejak tahun 70-an. Selain di Alun-alun, ia biasa berjualan di BNI dekat Kraton dan di Pakualaman. “Harus pindah-pindah mas kalau jualan,” jelas pria paruh baya itu. Mungkin maksudnya kalau cuma di satu tempat pembelinya jadi jenuh.
Ketika ditanya resep rahasianya, tanpa ragu-ragu Pak Min menyebutkan tepung terigu, tepung beras, mentega, dan telur. Konon, resep ini ia peroleh dadi pamannya dan masih ia gunakan hingga saat ini. Sang putra rupanya juga berjualan Leker dengan resep yang sama.
–oleh Herman Saksono


Mengarungi laut selatan bukan pekerjaan baru bagi Turiyo. Sejak berusia 7 tahun, laki-laki kelahiran 1976 ini telah membantu ayahnya yang juga seorang nelayan.
Berpofesi sebagai petugas kebersihan sejak tahun 1983 bukanlah sesuatu hal yang mudah. Demikian yang dialami Kliwon, petugas kebersihan outsourcing kantor saya. Beliau sebelumnya sudah beberapa kali ditempatkan di kantor telekomunikasi dan perbankan sebagai petugas kebersihan kantor. Sejak setahun ini beliau ditempatkan di kantor saya.
Tahukah anda, salah satu sentra pembuatan batik tulis di Jogjakarta adalah di Giriloyo, Imogiri? Batik memang ada macam-macam, batik tulis dan cap. Siang itu saya berkesempatan bertemu dengan salah seorang penduduk yang masih menekuni batik tulis sebagai penghasilan utama keluarga. Lokasinya sendiri tak jauh di bawah bukit tempat dimakamkannya raja-raja Mataram.
Dalam keriuhan malam sebuah pameran kolase, seorang gadis berambut kriwil naik ke panggung. Ia duduk menghadap sebuah piano, diam sebentar. Kemudian, dengan iringan pianonya, gadis itu melantunkan melodi easy-listening sedikit main-main yang sejenak membuat hadirin hening dan berhenti bercakap-cakap. Penampilannya lebih cocok jika dia remaja gaul Shibuya, Jepang. Tapi ia adalah Jogja asli. Namanya Leilani Hermiasih.





Komentar Terbaru