Arsip penulis

Pak Min, Resep Lekernya Turun Temurun

Gerobak dorong bercat biru milik Pak Min tidaklah istimewa seandainya ia tidak berjualan Leker. Makanan klasik ini mirip crêpe yang khas Perancis itu, tapi telah mengalami akulturasi dengan kekhasan lokal hingga menjadi Leker yang sering kita dapati di SD-SD.

Sore itu di tepi Alun-Alun Utara Jogja, Pak Min menuangkan adonan Leker ke dalam empat loyang panas. Lalu dengan cekatan ia mencacah pisang matang ke tiap-tiap leker, serta tak lupa menuangkan gula dan susu kental coklat. Tak lama kemudian voilà!: jadilah empat buah Leker yang siap disantap panas-panas.

Pria paruh baya ini sudah berjualan Leker sejak tahun 70-an. Selain di Alun-alun, ia biasa berjualan di BNI dekat Kraton dan di Pakualaman. “Harus pindah-pindah mas kalau jualan,” jelas pria paruh baya itu. Mungkin maksudnya kalau cuma di satu tempat pembelinya jadi jenuh.

Ketika ditanya resep rahasianya, tanpa ragu-ragu Pak Min menyebutkan tepung terigu, tepung beras, mentega, dan telur. Konon, resep ini ia peroleh dadi pamannya dan masih ia gunakan hingga saat ini. Sang putra rupanya juga berjualan Leker dengan resep yang sama.

–oleh Herman Saksono

Turiyo, Nelayan bukan Pilihan

Mengarungi laut selatan bukan pekerjaan baru bagi Turiyo. Sejak berusia 7 tahun, laki-laki kelahiran 1976 ini telah membantu ayahnya yang juga seorang nelayan.

Karena telah terbiasa dari kecil, Turiyo akhirnya menjadi seorang nelayan seperti sang Ayah. Pekerjaan ini bukan sebuah pilihan di dalam hidup Turiyo. Karena pria yang sempat bercita-cita menjadi ABRI ini tidak memiliki keahlian lain selain melaut. Bahkan lulus sekolah dasar pun tidak. “Daripada tidak punya kerjaan,” ungkapnya.

Hampir setiap hari Turiyo berangkat melaut dari Pantai Depok, selatan Yogyakarta sekitar pukul 6 pagi, dan kembali lagi sekitar pukul 12 siang. Tapi dengan catatan, cuaca dalam kondisi baik. “Karena menjadi nelayan itu tidak enak.” Tutur Bapak dari 3 orang anak ini. Turiyo mengatakan, menjadi nelayan adalah profesi yang berbahaya. Menurutnya, laut itu tidak bisa ditebak. Jika terjadi sesuatu di tengah laut, tidak ada orang lain yang dapat menolong kita selain diri sendiri.

Dari pekerjaan yang berbahaya ini, laki-laki berumur 32 tahun tersebut mendapatkan hasil yang tak menentu. Bergantung pada pengalaman dan keberuntungan. Turiyo pernah tidak mendapatkan seekor ikan pun ketika melaut. Namun, tidak memungkiri, jika ia sering memperoleh jutaan rupiah dalam sekali tangkapan. Tapi setiap uang hasil jualan ikan tersebut, harus dibagi hasil kepada pemilik kapal yang disewa Turiyo untuk mencari ikan.

Kini, harapan dari laki-laki yang pernah bercita-cita menjadi ABRI ini adalah tidak ingin anak-anaknya kelak menjadi nelayan seperti dirinya. Sekarang yang penting baginya adalah anak-anaknya bisa tetap bersekolah, dan menjadi orang sukses.

—oleh Iphan

Pak Kliwon, Cleaning Service

Berpofesi sebagai petugas kebersihan sejak tahun 1983 bukanlah sesuatu hal yang mudah. Demikian yang dialami Kliwon, petugas kebersihan outsourcing kantor saya. Beliau sebelumnya sudah beberapa kali ditempatkan di kantor telekomunikasi dan perbankan sebagai petugas kebersihan kantor. Sejak setahun ini beliau ditempatkan di kantor saya.

Dengan keterbatasan fisik karena mengalami Neoplasia di kaki kanannya, Kliwon dituntut selalu giat bekerja untuk menafkahi seorang istri dan ketiga putrinya. Berangkat bersepeda pagi-pagi dari wilayah Gamping menuju Nol KM Jogja untuk bekerja membersihkan kantor selama 10 jam dan kembali berkumpul bersama keluarga ketika matahari terbenam hampir setiap hari tentulah menjadi rutinitas yang amat berat.

Penghasilannya per bulan tidaklah besar. Setiap bulan Kliwon hanya memperoleh uang dibawah Rp 500.000 dari pekerjaan membersihkan kantor. Tidak ada pilihan lain untuk menjalani profesi tersebut karena kendala keterampilan dan pendidikan yang minim. Beruntung tidak ada tuntutan kesempurnaan fisik untuk menjalani pekerjaan tersebut di kantor saya. Kliwon lebih banyak ditugaskan di luar ruangan seperti taman dan lapangan upacara serta tidak diwajibkan menjalani pekerjaan berat seperti mengangkut barang. Terkadang karyawan di kantor saya banyak yang meminta bantuannya untuk sekadar membeli makan siang, dengan sukarela Kliwon menyanggupinya. Sifatnya yang ramah, jujur dan membantu tanpa pamrih membuatnya disegani banyak orang.

—oleh Alle

Mbah Bilal, Pengrajin Batik

Tahukah anda, salah satu sentra pembuatan batik tulis di Jogjakarta adalah di Giriloyo, Imogiri? Batik memang ada macam-macam, batik tulis dan cap. Siang itu saya berkesempatan bertemu dengan salah seorang penduduk yang masih menekuni batik tulis sebagai penghasilan utama keluarga. Lokasinya sendiri tak jauh di bawah bukit tempat dimakamkannya raja-raja Mataram.

Ya, siang itu mbah Bilal tampak sedang menorehkan cairan malam di atas kainnya. Pekerjaannya sudah hampir 75% selesai. Satu lembar kain 2 x 1 meter, bisa diselesaikan dalam waktu 2 minggu atau bahkan lebih. “Naming ngge samben kok nak, sak selane” (cuma untuk sambilan kok nak, dikerjakan di kala senggang saja), mbah Bilal menjelaskan. Memang hampir disetiap rumah di desa tersebut perajin batik, entah milik sendiri atau cuma mengerjakan orderan dari juragan batik. Ada juga yang bekerja dalam bentuk paguyuban.

Sayangnya, bagi mereka yang hanya mengerjakan order dari pengusaha, kain yang telah ditulis dengan malam hanya dihargai 250 ribu hingga 500 ribu, tergantung tingkat kesulitan. Bagi saya tentu ini tidak sebanding dengan kerja keras dan keterampilan yang telah dicurahkan mbah Bilal selama mengerjakannya. “Mbangane mboten onten nak” (daripada tidak dapat sama sekali nak), nrimo, ya begitulah mbah Bilal. Di Giriloyo masih banyak mbah Bilal yang lain. Saat ditanya tentang batik yang sudah dipatenkan oleh negara lain, mbah Bilal hanya menggeleng tidak tahu.

—oleh Annots

Leilani, Pianis Karir dari SD

Dalam keriuhan malam sebuah pameran kolase, seorang gadis berambut kriwil naik ke panggung. Ia duduk menghadap sebuah piano, diam sebentar. Kemudian, dengan iringan pianonya, gadis itu melantunkan melodi easy-listening sedikit main-main yang sejenak membuat hadirin hening dan berhenti bercakap-cakap. Penampilannya lebih cocok jika dia remaja gaul Shibuya, Jepang. Tapi ia adalah Jogja asli. Namanya Leilani Hermiasih.

Sampean bisa menikmati lagu-lagu ciptaan Leilani di profil MySpace-nya. Agak susah menebak ini musik jenis apa. “I’m a Sir” sedikit mengingatkan akan Bjork, walaupun lebih nyaman di telinga. Chika bilang itu masuk pop-opera, sementara Ekowanz bilang ada sedikit improvisasi ala jazz juga. Entahlah, toh saya dan sampean tidak hendak menjudge ini musik jenis apa.

Pianis muda ini lahir dan besar di Jogja. SMA ambil di Stella Duce, lalu kuliah di Antropologi UGM. Walaupun lebih suka dipanggil mahasiswi daripada musisi, Leliani sebetulnya sudah mulai mengasah bakat musiknya dari kecil. Sejak SD kelas 1 hingga kelas 6 ia tekun ikut les piano dengan Bu Markiswo, yang katanya sangat sabar dan baik hati. Masuk SMP, darah bandelnya kambuh, ia berhenti les piano lalu banting setir les main bass. Les itu berakhir dua minggu kemudian. Barulah waktu SMA, Leliani mulai kembali les piano lagi.

Walaupun sudah sering ngeband, ia baru merintis debut solonya tempo hari, tepatnya 3 November lalu di V-Art Gallery, Jogja, yang mendapat sambutan positif dari penonton. Gaya musiknya yang agak nyrempet-nyrempet new age mungkin terinspirasi oleh sang idola Suzanne Ciani, pianis dan komposer musik senior. Jika boleh memilih, Leilani ingin berkolaborasi meciptakan musik dengan Regina Spektor sebagai lyricistnya.

Jogja memang selalu menjadi rumahnya. Menurut Leliani, hidup di Jogja sangat murah yang sekaligus memberikan kemudahan-kemudahan bagi musisi untuk mengambangkan bakatnya.

—oleh Antobilang dan Herman