Arsip untuk January, 2009

Nasrul: “Jogja yang Memilih Ayah”

Ayah, begitu Nasrul biasa dipanggil, pernah berdagang dengan cara yang unik: jika ada kapal yang berlabuh di Jakarta, ia akan ikut kapal itu, sepanjang tujuannya ke arah timur, apa pun kota tujuannya. Di pelabuhan tujuan itulah ia berdagang kaki lima.

Pada awal 1980-an, Ayah dipanggil ke Jogja oleh saudaranya, seorang pengusaha warung makan Padang. Ia diajak bekerja di warung makan Padang “Palitu Aalam” di sekitar Pasar Kembang. Sebelumnya, pada 1971-1976, sebelum berkelana dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, Ayah juga sempat bekerja pada orang yang sama, tepatnya di warung makan Padang “Wiena” yang berlokasi tak jauh dari Stasiun Tugu. Setelah ditinggalkan Ayah berkelana, warung makan “Wiena” mulai merosot dan akhirnya dijual ke salah satu kerabat Presiden Soeharto.

Ayah kembali ke Jogja saat saudaranya tadi itu mendirikan warung makan padang “Palitu Alam”. Sembari bekerja di “Palitu Alam”, Ayah ikut belajar mengelola warung makan, dari mulai memasak, melayani pelanggan, hingga mengelola keuangan.

Berbekal pengalaman itulah Ayah akhirnya membuka warung makan Padang sendiri pada 2004 silam, tak jauh dari supermarket Ramayana di Malioboro. Ia menamai warungnya sama persis dengan nama panggilannya: “AYAH”.

Kini Ayah sudah berusia 58 tahun. Dan tiap kali ditanya kenapa memutuskan menetap di Jogja, Ayah selalu punya jawaban metaforik. Katanya, “Bukan Ayah yang pilih Jogja, tapi Jogja yang memilih Ayah.”

–oleh Choro

Harsha Tanjung, “Jogja Itu Prospek Banget Buat Ngeband”

NUANCE diklaim Harsha Tanjung sebagai band alternatif pertama di Jogja. Ia sendiri yang mendirikannya pada 1994. Ketiadaan visi yang sama di internal NUANCE plus desakan merampungkan skripsi memaksanya “turun panggung” sebagai musisi dan memutuskan hanya berada di belakang layar saja.

Keputusan untuk menanggalkan karir sebagai musisi diakuinya sebagai keputusan yang berat. Di waktu-waktu tertentu, hasrat untuk tampil di atas panggung sebagai musisi kadang masih sering muncul. Tapi dadu sudah dilempar, keputusan sudah diambil. “Itu keputusan yang berat, tapi tidak pernah aku sesali,” ujarnya mantap.

Sejak itu ia malang melintang di panggung hiburan musik. Dia pernah menjadi roadies/tim produksi “Slank”. Pernah pula ia menjadi road manager-nya “Jikustik”. Terakhir, hingga kini, Harsha masih bekerja sebagai road manager band Seventeen, salah satu band asal Jogja yang sedang moncer.

Ia menilai, musisi sekarang ini sukar mendapat penghasilan signifikan dari royalti penjualan kaset atau CD. Pembajakan sudah terlampau mengakar kuat. Penghasilan terbesar musisi di zaman sekarang hanya diperoleh –terutama—dari ring back tone dan konser-konser atau acara off-air saja. Musisi-musisi muda di Jogja sendiri dianggapnya gamang menyikapi persoalan antara idealisme dan industri. Masih banyak yang memaksakan idealismenya dalam bermusik. Padahal, satu-satunya cara agar bisa terus eksis adalah mencari jalan tengah yang selaras antara tuntutan industri dan hasrat mengibarkan idealisme.

Kendati demikian, katanya lagi, “Jogja masih tetap prospek banget buat ngeband, banyak musisi hebat lahir di kota ini!”

–oleh Ekowanz

Mbah Arek: Pada Kelopak Bunga Kemboja

Tak sengaja saya bertemu dengannya. Dia yang sore itu sedang membereskan kembang-kembang kamboja yang berserakan di kompleks pemakaman Taman Sari, tepat di depan rumahnya.

Kuburan dan kembang kamboja adalah hidupnya kini. Dulu, pada masa muda, ia melakoni banyak hal, termasuk menjadi prajurit pada masa revolusi. Usai Agresi Militer ke-II, ia kembali ke Jogja setelah lama berkiprah di Surabaya. Sempat ditawari pensiun, tapi jiwa mudanya terlalu angkuh untuk menerima asupan subsidi.

Suatu ketika ia bersemedi di Kali Progo. Di situ, turun wisik yang menyebutkan bahwa ia harus berkunjung ke makam di daerah Miliran. Ke sanalah dia, dan ditemukannya cincin akik berwarna hitam. Cincin itu ia kenakan dan sontak –dengan serta merta– ia merasa “pengetahuan” sudah mengeram dalam dirinya.

Tapi ia khilaf karena suatu sebab. Dilanggaranya pantangan, dimamahnya nasi dan datanglah hukuman: cincin itu hilang begitu saja. “Saya hampir gila,” ujarnya.

Kini, sejak dua tahun lalu, ia menggantungkan hidup pada kembang kamboja yang ia kumpulkan di seantero Taman Sari, juga sisa-sisa bunga yang ada di makam-makam. Setelah terkumpul lebih kurang lima kilo, kembang kamboja yang sudah kering itu akan diambil oleh seorang “utusan”. Kembang kamboja itu, katanya, untuk bahan membuat sabun, obat nyamuk, dan lain rupa.

Ia punya pengertian sendiri tentang jumlah kelopak kemboja. Normalnya, kelopak bunga kamboja ada lima. Dalam kepercayaan Jawa, kata Mbah Arek (82 tahun), jika ada kembang kamboja yang berkelopak genap (4, 6, dan 8), maka yang memilikinya akan memeroleh keberuntungan sebanyak jumlah kelopak yang ditemukannya.

Iseng saya memilih-milih kembang kamboja sebagai kenang-kenangan. Saya malah menemukan kembang kamboja berkelopak enam. Saya tidak tahu, adakah enam keberuntungan yang akan saya dapatkan.

– oleh Fian Khairunnisa